Ulat grayak jagung atau Spodoptera frugiperda (FAW) tetap menjadi hama penting jagung di Indonesia. Tantangannya bukan hanya memilih insektisida, tetapi mengenali serangan sedini mungkin, menentukan kapan intervensi diperlukan, memastikan semprotan mencapai larva di whorl, dan memilih chemistry berdasarkan bukti serta Mode of Action.
Field Problem
Kerusakan FAW sering mulai terlihat sebagai bekas gerekan atau lubang pada daun muda dan dapat berkembang menjadi kerusakan berat pada whorl. Penelitian Indonesia juga melaporkan bahwa pada tekanan tinggi FAW dapat merusak batang dan tongkol. Karena itu scouting tidak boleh hanya dilakukan setelah tanaman tampak rusak berat.
Larva yang semakin besar dan berada lebih dalam di whorl juga dapat menjadi target yang lebih sulit dijangkau. Keputusan pengendalian karena itu harus menggabungkan identifikasi, stadia larva, tingkat serangan, posisi target dan riwayat aplikasi.
Science/Technology
Kenali target sebelum memilih chemistry
Konfirmasi bahwa kerusakan memang konsisten dengan FAW dan cari larva aktif pada tanaman yang menunjukkan gejala baru. Pengamatan beberapa titik yang mewakili petak lebih berguna daripada hanya melihat tanaman di tepi atau hotspot.
Timing adalah bagian dari efficacy
IRAC menempatkan identifikasi hama dan keputusan kapan melakukan treatment sebagai bagian penting pengelolaan FAW. Prinsipnya bukan kalender semprot, tetapi scouting, tindakan agronomi, keputusan intervensi, lalu penggunaan insektisida dengan prinsip Insecticide Resistance Management.
Bukti bahan aktif di Indonesia
Penelitian lapang di Indonesia oleh Susanto dan kolega menemukan beberapa bahan aktif dengan mortalitas tinggi terhadap FAW, termasuk emamectin benzoate dan chlorfenapyr. Studi populasi FAW dari Jawa Tengah juga menemukan populasi yang diuji masih susceptible terhadap emamectin benzoate, chlorantraniliprole dan spinetoram. Data ini mendukung relevansi chemistry tersebut terhadap biologi FAW, tetapi tidak menggantikan registrasi dan label produk komersial.
Penelitian Indonesia yang lebih baru juga terus menunjukkan aktivitas emamectin benzoate dan kombinasi emamectin + chlorfenapyr terhadap FAW. Namun susceptibility dapat berubah antar lokasi dan waktu, sehingga hasil penelitian tidak boleh diterjemahkan menjadi asumsi bahwa chemistry akan selalu memberikan hasil yang sama di setiap populasi.
Practical Decision
- Scout sebelum spray. Catat persentase tanaman bergejala, keberadaan larva hidup, stadia larva dan perkembangan kerusakan.
- Prioritaskan gejala aktif. Kerusakan lama tanpa larva aktif tidak sama dengan infestasi yang sedang berkembang.
- Periksa posisi larva. Bila target berada di whorl, kualitas delivery dan coverage menjadi bagian penting dari keputusan aplikasi.
- Cocokkan active ingredient dan Mode of Action. Gunakan bukti efficacy sebagai dasar memahami chemistry, kemudian verifikasi crop-target pada label produk yang akan digunakan.
- Catat MoA aplikasi sebelumnya. Hindari paparan berulang terhadap kelompok MoA yang sama pada generasi hama berturut-turut.
- Evaluasi hasil. Bila performa rendah, periksa diagnosis, timing, coverage dan kondisi aplikasi sebelum menyimpulkan resistance.
Danken Product Connection
Portofolio Danken memiliki chemistry yang secara ilmiah relevan untuk pembahasan FAW. DKFenzo 120 SC mengandung klorfenapir 100 g/L + emamektin 20 g/L. Kedua chemistry tersebut memiliki bukti umum aktivitas terhadap S. frugiperda, termasuk penelitian di Indonesia.
Namun halaman produk Danken saat ini mencantumkan DKFenzo 120 SC untuk Spodoptera exigua pada bawang merah, bukan sebagai klaim penggunaan FAW pada jagung. Karena itu DKFenzo di artikel ini digunakan untuk menjelaskan hubungan active ingredient–target biology–MoA, bukan sebagai rekomendasi penggunaan di luar label.
DKLufem 50 WG mengandung lufenuron + emamektin benzoat dan juga relevan untuk pembelajaran chemistry Lepidoptera, tetapi halaman produknya mencantumkan sasaran S. exigua pada bawang merah. Prinsip yang sama berlaku: evidence bahan aktif membantu memahami potensi biologis, sedangkan keputusan penggunaan produk harus tetap mengikuti label terdaftar.
Untuk konteks portfolio jagung Danken, lihat Solusi Perlindungan Tanaman Jagung. Untuk resistance management, baca juga rotasi Mode of Action pada ulat grayak jagung dan teknologi nozzle, droplet dan coverage.
DANKEN PRODUCT CONNECTION
DKFenzo 120 SC
Klorfenapir 100 g/L + emamektin 20 g/L. Halaman crop dan product Danken mencantumkan jagung serta Spodoptera frugiperda; penggunaan tetap harus mengikuti label dan registrasi yang berlaku.
Technology Transfer Takeaway
Pengendalian FAW yang baik dimulai sebelum insektisida dipilih. Scout tanaman, pastikan larva aktif dan stadia target, nilai apakah intervensi diperlukan, kemudian pilih chemistry yang memiliki evidence terhadap target dan produk yang penggunaan crop-target-nya sesuai label.
Untuk tim Danken dan retailer, urutan percakapannya menjadi: target → scouting → timing → active ingredient evidence → MoA → label fit → application quality → evaluation.
Sources
- IRAC — Fall Armyworm management and IRM guidance.
- Susanto A, Setiawati W, Udiarto BK, Kurniadie D. Toxicity and efficacy of selected insecticides for managing invasive fall armyworm on maize in Indonesia. Research on Crops. 2021.
- Suryani JN, Trisyono YA, Martono E. Susceptibility of Spodoptera frugiperda collected from Central Java to emamectin benzoate, chlorantraniliprole and spinetoram. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia. 2022.
- Trisyono YA et al. An Update on the Fall Armyworm: Severity of Maize Damage and Susceptibility to Emamectin Benzoate and Chlorantraniliprole. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia.
- Mursyidin AH, Pandya LWA, Supeno B. Efficacy of Several Synthetic Insecticides against Mortality of the Fall Armyworm Spodoptera frugiperda. CELEBES Agricultural. 2026.
Catatan: Evidence mengenai suatu bahan aktif tidak otomatis merupakan rekomendasi penggunaan suatu merek pada crop atau target tertentu. Selalu ikuti label produk, status registrasi dan ketentuan resmi yang berlaku di Indonesia.
