Ketika pengendalian penyakit mulai menurun, respons di lapangan sering kali adalah mengganti merek fungisida. Namun, dua produk dengan merek atau bahan aktif berbeda dapat bekerja pada target biologis yang sama dan berada dalam kelompok FRAC yang sama. Dari sudut pandang resistance management, pergantian seperti ini belum tentu merupakan rotasi yang sesungguhnya.

Field Problem

Program fungisida pada tanaman dengan tekanan penyakit tinggi dapat melibatkan beberapa aplikasi selama satu musim. Bila kelompok Mode of Action (MoA) yang sama digunakan berulang, populasi patogen terus menerima tekanan seleksi yang serupa. Individu yang kurang sensitif mempunyai peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang.

Penurunan performa lapang juga tidak otomatis membuktikan resistensi. Diagnosis penyakit yang keliru, aplikasi terlambat, interval yang tidak tepat, coverage buruk, cuaca, tekanan inokulum tinggi, atau penggunaan yang tidak sesuai label dapat menghasilkan gejala yang menyerupai kegagalan akibat resistensi.

Science/Technology

Fungicide Resistance Action Committee (FRAC) mengelompokkan fungisida berdasarkan Mode of Action. Fungisida dalam FRAC Group yang sama umumnya memiliki mekanisme kerja serupa dan dapat mempunyai risiko cross-resistance. Karena itu, mengganti bahan aktif tetapi tetap berada pada FRAC Group yang sama bukan partner rotasi yang ideal untuk resistance management.

Strategi tidak berhenti pada sekadar mengganti kode FRAC. FRAC menekankan penggunaan program pengendalian penyakit yang efektif, pembatasan penggunaan kelompok berisiko sesuai rekomendasi spesifik, serta alternasi atau mixture dengan partner yang efektif dan tidak cross-resistant bila secara teknis dan label memungkinkan.

Fungisida multi-site memiliki peran khusus karena bekerja pada beberapa target dan secara umum mempunyai risiko resistensi lebih rendah dibanding banyak fungisida single-site. Namun keberadaan multi-site bukan alasan untuk mengabaikan diagnosis, coverage, timing, agronomi, maupun ketentuan label.

Practical Decision

Sebelum menyusun program fungisida, mulai dari penyakitnya, bukan dari mereknya. Identifikasi patogen atau kelompok penyakit yang paling mungkin, pahami kondisi yang mendukung infeksi, kemudian tentukan kapan perlindungan dibutuhkan.

  1. Cek FRAC Group. Catat kode MoA setiap fungisida yang direncanakan. Dua bahan aktif berbeda dalam kelompok yang sama tidak otomatis memberikan rotasi MoA.
  2. Hindari penggunaan berulang tanpa strategi. Untuk kelompok berisiko, ikuti batas aplikasi, sequence, mixture atau alternation yang ditetapkan label dan rekomendasi resistance-management yang relevan.
  3. Gunakan mixture secara rasional. Untuk tujuan resistance management, partner campuran harus mempunyai MoA berbeda dan benar-benar efektif terhadap target penyakit pada kondisi penggunaannya. Mencampur dua fungisida dari kelompok cross-resistance yang sama tidak menghasilkan strategi anti-resistensi yang kuat.
  4. Utamakan timing yang tepat. Banyak kelompok fungisida lebih baik ditempatkan secara preventif atau pada tahap awal perkembangan penyakit daripada terus mengandalkan aplikasi kuratif setelah epidemi berkembang.
  5. Kurangi tekanan penyakit dengan agronomi. Sanitasi, varietas, pengelolaan kanopi, drainase, rotasi tanaman dan pengurangan sumber inokulum dapat menurunkan ketergantungan pada fungisida.
  6. Periksa kualitas aplikasi. Coverage yang buruk dapat membuat produk yang secara biologis efektif terlihat gagal di lapangan.

Danken Connection

Bagi Danken Indonesia, resistance management seharusnya menjadi bagian dari technology transfer kepada distributor, retailer, field team dan petani. Contoh nyata pada portofolio padi adalah DKZol Extra 300 EC yang mengandung propikonazol + difenokonazol—keduanya DMI/FRAC Group 3—dan DKProthiomix 390 SC yang mengandung protiokonazol (FRAC 3) + trifloksistrobin (QoI/FRAC 11). Keduanya mencantumkan blas padi sebagai target pada informasi produk Danken. Ini menunjukkan mengapa program tidak cukup membaca jumlah bahan aktif: komposisi FRAC Group perlu dibaca untuk memahami tekanan seleksi dan merancang rotasi/alternasi sesuai label dan pedoman FRAC. Produk lain seperti DKAztrozol Plus 375 SC juga menggabungkan QoI dan DMI, tetapi target labelnya berbeda; kecocokan penyakit tetap harus diperiksa sebelum penggunaan.

Prinsip ini juga berkaitan langsung dengan teknologi aplikasi. Untuk memahami mengapa kualitas deposisi dan coverage dapat menentukan hasil aplikasi, baca artikel Danken Knowledge & Technology Transfer mengenai ukuran droplet, nozzle dan coverage.

Untuk crop-specific planning, lihat juga halaman solusi Danken untuk padi, jagung, tebu, dan kelapa sawit. Pemilihan produk tetap harus mengikuti label dan status registrasi yang berlaku.

Technology Transfer Takeaway

Rotasi fungisida bukan sekadar ganti merek atau ganti bahan aktif. Rotasi yang bermakna dimulai dengan memahami Mode of Action dan FRAC Group.

Ketika performa menurun, jangan langsung menyimpulkan resistensi. Periksa diagnosis, timing, coverage, tekanan penyakit dan kesesuaian penggunaan terlebih dahulu. Bila program membutuhkan aplikasi berulang, susun MoA sejak awal musim sehingga resistance management menjadi bagian dari keputusan lapang, bukan tindakan setelah fungisida mulai kehilangan performa.

Sources

Catatan: Artikel ini membahas prinsip umum technology transfer. Selalu ikuti label produk, status registrasi, target penggunaan, dan ketentuan resmi yang berlaku di Indonesia.